Bisa Itu Karena Terbiasa


Rekan dan kawan seiman dan seakidah, semoga kita selalu berada dalam lindungan Allah SWT hingga akhir tujuan hidup kita, bahkan hingga menuju kepada kehidupan yang abadi yaitu akhirat kelak.

Semoga tidak ada kata bosan yang terucap semu dalam hati kita, semoga tidak ada kata lelah letih yang terasa dalam batin kita untuk selalu memperkaya diri dengan segala hal yang baik-baik. Ikhwah fillah, ada sebuah kisah yang unik dan menarik yang mungkin kita bisa ambil hikamhnya.


"Di Yaman, tinggalah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Walaupun cacat, ia adalah pemuda yang soleh dan sangat berbakti kepadanya Ibunya. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.


"Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji," pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seeokar anak lembu, Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan pergi Haji naik lembu. Olala, ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. "Uwais gila.. Uwais gila..." kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh.

Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Ia menjadi kuat mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya.

Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka'bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka'bah, ibu dan anak itu berdoa. "Ya Allah, ampuni semua dosa ibu," kata Uwais. "Bagaimana dengan dosamu?" tanya ibunya heran. Uwais menjawab, "Dengan terampunnya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga."


Dari kisah diatas ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik hikmahnya salah satunya adalah bahwa setiap hal yang biasa kita lakukan secara rutin.

meskipun itu berat maka akan terasa ringan jika kita perlahan membiasakan diri untuk melakukan hal yang demikian, sama halnya dengan Uwais karena dia memiliki tekad yang kuat,

keinginan yang ngotot maka segala rintangan dia akan lakukan meski sekilas dalam kacamata manusia terlihat begitu konyol, begitupun dengan semua kegiatan kita sungguh tidak ada yang sulit dikerjakan selama pekerjaan itu adalah level manusia,

tapi jika sudah keluar dari itu maka itu bukan sebuah hal yang baik untuk kita kerjakan. Allah Maha Tahu akan kadar kemampuan hambaNya sebesar apa kemampuan dia dalam menjalani hidup, maka sebesar itu pula rintangan yang akan dia hadapi dan ketika kita merasakan sebuah kesulitan yang melebihi kemampuan kita itu semata sebuah pendewasaan untuk kita,

sebab tidak ada sebuah masalah melainkan sebagai tangga untuk menuju lebih bijak dalam mengambil sebuah keputusan. Akhi fillah,,, berfikir takut untuk salah sebetulnya kita sudah berada dalam masalah, berfikir takut kepada kegelapan sebetulnya kita sudah berada dalam sebuah kegelapan,

sebuah ruang dimana kita merasa berada dalam sebuah penjara tanah yang kekal, dalam sebuah kesulitan yang tak ada jalan keluar, tidakkah kita ingat mengapa kita masih mampu bertahan hingga saat ini, dari begitu banyaknya rintangan yang telah kita lalui dulu,

bukankah ini sebuah bukti jika kita adalah seorang yang tegar, seorang yang bijak, seorang yang tegas dalam mengambil sebuah langkah.

Lalu, mengapa harus berhenti sampai disini dan kembali ke masa kegelapan dulu, kembali kemasa dimana kita merasakan begitu sulit untuk menuju kepada hari yang saat ini kita hidup? Sungguh perjuangan saat ini akan menjadi sebuah cerita yang indah dimasa yang akan datang.
semoga kita selalu dikuatkan dalam sebuah rintangan hidup kita, amin

Biarkan orang berkata cita-citamu terlalu besar, mungkin cara mereka berpikir terlalu kecil, hidupmu bukan tanggungan orang lain, maka jangan takut untuk berproses menjadi pribadi yang lebih dewasa

Thanks for your visiting
EmoticonEmoticon